handphone-tablet

Kades Podorukun Jarang Ngantor,Warga Ngeluh

Kayong Utara- Ikatan Mahasiswa Seponti (IMS) Kabupaten Kayong Utara kecewa dengan sikap yang dilakukan desa Podorukun, kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara. Kekecewaan itu disampaikan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat IMS KKU, Habib melalui press realis pada,Jumat(6/1).

Dijelaskannya, dibentuknya IMS bukan hanya untuk menghimpun serta menyatukan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi di kota Pontianak, tetapi juga untuk misi membangun daerah khususnya di kecamatan Seponti.

Kekecewaan itu, menurutnya, Pemerintahan desa Podorukun seakan tidak memiliki seorang pemimpin atau kepala desa, dikarnakan kepala desanya tidak pernah berada di tempat ataupun sering bepergian ke luar kota bukan dalam keadaan tugas.

“Hal ini sangat disayangkan dan merugikan masyarakat di desa tersebut, akibatnya kegiatan administrasi di desa sangat kacau seakan berantakan dengan perbuatan seperti itu bahkan tidak pernah kepala desa tersebut terlihat berkantor,” ungkap Habib.

Ia melanjutkan, dengan seperti itu membuat masyarakat menjadi apatis dan tidak lagi peduli dengan pembangunan di desa. “Ini bermula ketika pemilihan kepala desa yang dilaksanakan diduga dengan menggunakan politik uang yang cukup besar dari ke 3 calon Kades pada waktu itu,” terang Habib.

Dikatakannya pula, dampak politik uang memang sangat merugikan masyarakat skala lima tahun, namun sulit untuk dipungkiri bahwa hal tersebut sudah menjadi konsumsi publik. Bahwa biaya politik itu mahal, walaupun dalam tataran pemilihan kepala desa.

“Dengan anggaran desa lebih dari satu Milyar posisi ini menjadi rebutan, masyarakat khususnya di desa sudah harus menerima pendidikan politik melalui saluran dan pihak terkait khususnya partai politik dan penyelenggara pemilu, tuntutan kedepan masyarakat harus lebih pandai memilah dan memilih seorang calon pemimpin karna berdampak jangka panjang dalam pembangunan dan kemajuan desa,” tegasnya.

Dirinya berharap kepada pemerintah untuk segera memberikan teguran terhadap kepala desa tersebut, karena menurutnya sangat merugikan masyarakat dalam hal pelayanan administrasi dan etika kepemimpinan yang memang harus di perbaiki.
Selanjutnya, Jhoni satu diantara warga desa Podorukun mengatakan, desa tersebut seakan tidak memiliki pemimpin yang benar-benar layaknya seorang pemimpin.

“Sangat sulit sekali untuk sekedar bertatap muka dengan kepala desa secara langsung, aparat desa bilang dengan alasan Kepala desa sedang pergi ke luar kota hal ini sangat ironis menyangkut seorang pemimpin sudah seharusnya bahkan wajib untuk tetap ada di kantor desa, terlepas dari perjalanan ke luar kota,” jelas Jhoni.

(Rizal).

REKOMENDASI :

Click to comment

Copyright © 2017 - PT Delik Media Siber

To Top